Apa yang Dapat Diungkapkan oleh Teknik-Teknik Priming
Mengenai Representasi Asosiatif yang Muncul selama
HCL (Human Contingency Learning)
Tulisan oleh :
Joaquin Moris, Pedro L. Cobos, dan David Luque
Fakultas Psikologi, Universitas Malaga, Spanyol
Dalam :
The Open Psychology Journal
Tahun 2010, Edisi ke-3, halaman 97 – 104
· Teori belajar asosiatif telah digunakan untuk menjelaskan tentang HCL (Human Contingency Learning) sejak tahun 1980-an.
· Teori HCL berusaha menjelaskan bagaimana manusia mempelajari hubungan antara apa yang ada atau apa yang tidak ada dari suatu tanda atau penyebab dikaitkan dengan ada atau tidak adanya suatu akibat, dan bagaimana proses belajar ini mempengaruhi perilaku manusia di kemudian hari.
· Contoh percobaan HCL :
o Para partisipan diberitahu bahwa mereka akan berperan sebagai dokter.
o Para partisipan yang berperan sebagai dokter ini diberitahu tentang bermacam-macam makanan yang dimakan oleh pasien, dan para partisipan / “dokter” ini harus “memberikan perkiraan” apakah pasien itu akan menderita alergi atau tidak.
§ Sebelumnya, para pertisipan yang berperan sebagai dokter ini sudah diberitahu tentang berbagai macam hubungan / pengaruh antara makanan yang dimakan pasien dan ada atau tidak adanya alergi yang diderita pasien setelah memakan makanan itu.
§ Setelah mendapatkan penjelasan itu, para partisipan / “dokter” ditanya bagaimana prediksinya : apakah pasien akan menderita alergi atau tidak setelah memakan suatu makanan tertentu.
· Teori belajar asosiatif bukanlah satu-satunya teori yang menjelaskan HCL.
o Dalam Blocking Design, ada dua tahap percobaan.
o Tahap pertama adalah perlakuan A+, misalnya suatu “penyebab” A diikuti dengan akibatnya.
o Tahap kedua Perlakuan kedua adalah perlakuan AB+, di mana penambahan “penyebab” A mengakibatkan menurunnya akibat yang ditimbulkan oleh “penyebab” B.
o Dengan demikian para partisipan memiliki pemikiran bahwa ada atau tidak adanya “penyebab” B tidak berpengaruh pada akibat yang ditimbulkan oleh “penyebab” A.
· Sebagian efek bloking bisa muncul selama proses pembelajaran.
· Teknik-teknik priming telah digunakan secara luas dalam berbagai studi mengenai memori dan psikolinguistik.
· Priming dapat didefinisikan sebagai variasi dari proses dari suatu stimulus target sesuai dengan hadirnya stimulus sebelumnya. Hubungan antara stimulus-stimulus diselidiki dalam tahap pertama, kemudian stimulus-stimulus itu dikaji lebih lanjut dalam tahap kedua.
· Pecobaan-percobaan menggunakan associative repetition priming memberikan jawaban yang paling baik untuk menjawab pertanyaan : “apakah HCL memunculkan asosiasi representasi di antara hubungan-hubungan yang diteliti”, dan “apakah representasi ini sesuai dengan harapan sebagaimana dinyatakan oleh teori-teori asosiatif”.
o Sebagai contoh, kepada partisipan ditunjukkan sepasang kata prime-target dalam kondisi koheren yaitu KOTA dan RUMPUT selama 3 detik, kemudian sepasang kata MARMER dan RUMAH, CANTIK dan MASAM, dan seterusnya. Mereka diperintahkan untuk mengingat pasangan-pasangan kata-kata itu untuk tes berikutnya.
o Sementara itu, pasangan kata-kata prime-target juga diberikan dalam kondisi yang tidak koheren, yaitu kondisi rekombinasi : antara prime dan target dipasangkan dengan cara beda, yaitu MARMER dan MASAM, dan sebagainya.
o Penelitian yang dilakukan oleh Mc Koon dan Ratcliff menunjukkan hasil bahwa hasil mengingat adalah lebih baik dalam kondisi koheren dibandingkan dalam kondisi rekombinasi. Mereka mengatakan bahwa hal ini terjadi karena adanya mekanisme penyebaran aktivasi (activation spreading mechanism) : PADA SAAT KEPADA PARTISIPAN DIPERLIHATKAN “PRIME”, MEREKA AKAN MENGAITKAN DENGAN TARGET TERKAIT (YANG KOHEREN).
· Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa associative repetition priming dapat digunakan untuk mendeteksi hubungan-hubungan yang terbentuk di antara stimulus yang diberikan.
· Pada akhirnya, penggunaan metodologi priming diharapkan akan dapat memberikan jawaban yang memuaskan atas perdebatan yang muncul di antara para peneliti penganut paham asosiatif dan penganut paham non asosiatif.
Oleh : Constantinus J Joseph
Jl.Anjasmoro V no.24 Semarang
Email : constantinus99@yahoo.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar