BAGIAN I : TEORI
Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
Di lain pihak, banyak anak yang terdiagnosis diskalkulia memiliki riwayat kegagalan akademis yang pada akhirnya berkembang menjadi ketidakmampuan dalam belajar matematika atau merasa tidak mampu mempelajarinya.
Meskipun umumnya diskalkulia dialami anak-anak, ada juga yang berkembang pada usia mulai dewasa. Misalnya, mereka baru mengalami kesulitan luar biasa pada saat belajar aljabar di tingkat Sekolah Lanjutan Atas atau dalam kalkulus di Universitas. Selain itu, diskalkulia pada usia ini juga ditandai dengan ketidakmampuan dalam semua aktivitas yang melibatkan programming, time management atau budgeting, bahkan pada pembuatan yearly atau midterm planning.
MATEMATIKA
Menurut Johnson dan Myklebust (1967) dalam Abdurrahman (2003), matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.
Lerner (1988) dalam Abdurrahman (2003) mengemukakan bahwa matematika di samping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.
Kline (1981) dalam Abdurrahman (2003) mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif.
Paling (1982) dalam Abdurrahman (2003) mengatakan bahwa ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali, dan bagi. Ada berpikir logis. pula yang melibatkan topik-topik aljabar, geometri, dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan
Dari berbagai pendapat tentang matematika, dapat disimpulkan bahwa definisi tradisional yang menyatakan bahwa matematika sebagai ilmu tentang kuantitas (the science of quantity) atau ilmu tentang ukuran diskrit dan berlanjut (the science of discrate dan continuous) sebagaimana dikatakan oleh Runes (1967) telah ditinggalkan (Abdurrahman, 2003).
Cornelius (1982) dalam Abdurrahman (2003) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika, yaitu :
1. Matematika merupakan sarana berpikir yang jelas dan logis
2. Matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari
3. Matematika merupakan sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman
4. Matematika merupakan sarana mengembangkan kreativitas
5. Matematika merupakan sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya
Liebeck (1984) dalam Abdurrahman (2003) mengatakan bahwa ada dua macam hasil belajar matematika yang harus dikuasai, yaitu perhitungan matematis (mathematics calculation) dan penalaran matematis (mathematics reasoning).
Selanjutnya Lerner (1988) dalam Abdurrahman (2003) mengatakan bahwa belajar matematika mencakup tiga elemen, yaitu : (1) Konsep matematika (2) Ketrampilan matematika (3) Pemecahan masalah matematika
DISKALKULIA
Menurut Lerner (1988) dalam Abdurrahman (2003), kesulitan belajar logika matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis). Istilah diskalkulia memiliki konotasi medis yang memandang adanya keterkaitan dengan gangguan saraf ousat. Kesulitan belajar matematika yang berat oleh Kirk (1962) dalam Abdurrahman (2003) disebut akalkulia (acalculia).
Sedangkan Jacinta F. Rini (2008) mengatakan bahwa diskalkulia dikenal juga dengan istilah math difficulty karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif sebagai bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.
BAGIAN II : PENDAPAT AHLI
Lerner (1981) dalam Abdurrahman (2003) mengatakan bahwa ada beberapa karakteristik anak diskalkulia, yaitu :
1. Adanya gangguan dalam hubungan keruangan
a. Konsep hubungan keruangan seperti atas-bawah, puncak-dasar, jauh-dekat, tinggi-rendah, depan-belakang, awal-akhir umumnya telah dikuasai oleh anak pada saat mereka belum masuk SD.
b. Anak-anak memperoleh pemahaman tentang berbagai konsep hubungan keruangan tersebut dari pengalaman mereka dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosial mereka atau melalui berbagai permainan.
c. Tetapi anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan lingkungan sosial juga sering tidak mendukung terselenggaranya suatu situasi yang kondusif bagi terjalinnya komunikasi antar mereka.
d. Adanya kondisi intrinsik yang diduga karena disfungsi otak dan kondisi ekstrinsik berupa lingkungan sosial yang tidak menunjang terselenggaranya komunikasi dapat menyebabkan anak mengalami gangguan dalam memahami konsep-konsep hubungan keruangan.
e. Adanya gangguan dalam memahami konsep-konsep hubungan keruangan dapat mengganggu pemahaman anak tentang sistem bilangan secara keseluruhan.
f. Karena adanya gangguan tersebut, anak mungkin tidak mampu merasakan jarak antara angka-angka pada garis bilangan atau penggaris, dan mungkin anak juga tidak tahu bahwa angka 3 lebih dekat ke angka 4 daripada ke angka 6.
2. Abnormalitas persepsi visual
a. Anak diskalkulia sering mengalami kesulitan untuk melihat berbagai objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set.
b. Kesulitan semacam itu merupakan salah satu gejala adanya abnormalitas persepsi visual. Kemampuan melihat bebagai objek dalam kelompok merupakan dasar yang sangat penting yang memungkinkan anak dapat secara cepat mengidentifikasi jumlah objek dalam suatu kelompok.
c. Anak yang mengalami abnormalitas persepsi visual akan mengalami kesulitan bila mereka diminta untuk menjumlahkan dua kelompok benda yang masing-masing terdiri dari lima atau empat anggota.
d. Anak semacam itu mungkin akan menghitung satu persatu anggota tiap kelompok lebih dahulu sebelum menjumlahkannya.
3. Asosiasi visual-motor
a. Anak diskalkulia sering tidak dapat menghitung benda-benda secara berurutan sambil menyebutkan bilangannya “satu, dua, tiga, empat, lima ”.
b. Anak mungking baru memegang benda yang ketiga tetapi telah mengucapkan “lima”, atau sebaliknya telah menyentuh benda kelima tetapi baru mengucapkan “tiga”.
c. Anak-anak semacam ini dapat memberikan kesan mereka hanya menghafal bilangan tanpa memahami maknanya.
4. Perseverasi
a. Ada anak yang perhatiannya melekat pada suatu objek saja dalam jangka waktu relatif lama.
Gangguan perhatian semacam ini disebut perseverasi. Anak demikian mungkin pada mulnya dapat mengerjakan tugas dengan baik, tetapi lama-kelamaan perhatiannya melekat pada suatu objek tertentu.
5. Kesulitan mengenal dan memahami simbol
a. Anak diskalkulia sering mengalami kesulitan dalam mengenal dan menggunakan simbol-simbol matematika seperti +, -, =, >, <, dan sebagainya.
b. Kesulitan semacam ini dapat disebabkan oleh adanya gangguan memori tetapi juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan persepsi visual.
6. Gangguan penghayatan tubuh
a. Anak diskalkulia sering memperlihatkan adanya gangguan penghayatan tubuh (body image).
b. Anak demikian merasa sulit untuk memahami hubungan bagian-bagian dari tubuhnya sendiri.
c. Jika anak diminta untuk menggambar tubuh orang misalnya, mereka akan menggambar orang dengan bagian-bagian tubuh yang tidak lengkap atau menempatkan bagian tubuh pada posisi yang salah. Misalnya, leher tidak tampak, tangan diletakkan di kepala, dan sebagainya.
7. Kesulitan dalam bahasa dan membaca
a. Matematika itu sendiri pada hakekatnya adalah simbolis. Oleh karena itu, kesulitan dalam bahasa dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak di bidang matematika.
b. Soal matematika yang berbentuk cerita menuntut kemampuan membaca untuk memecahkannya. Oleh karena itu, anak yang mengalami kesulitan membaca akan mengalami kesulitan dalam memecahkan soal matematika yang berbentuk cerita tertulis.
8. Performance IQ jauh lebih rendah daripada Verbal IQ
a. Hasil tes inteligensi dengan menggunakan WISC menunjukkan bahwa anak diskalkulia memiliki skor PIQ yang jauh lebih rendah daripada skor VIQ.
b. Tes inteligensi ini memiliki dua sub tes, yaitu tes verbal dan tes performance.
i. Sub tes verbal mencakup: (1) Informasi (2) Persamaan (3) Aritmetika (4) Perbendaharaan kata (5) Pemahaman
ii. Sub tes performance mencakup : (1) Melengkapi gambar (2) Menyusun gambar (3) Menyusun balok (4) Menyusun objek (5) Coding
c. Rendahnya skor PIQ pada anak diskalkulia tampaknya terkait dengan kesulitan memahami konsep keruangan, gangguan persepsi visual, dan adanya gangguan asosiasi visual-motor.
BAGIAN III : APLIKASI
Menurut Lerner (1981) dalam Abdurrahman (2003), ada berbagai kesalahan umum yang dilakukan oleh anak diskalkulia, yaitu :
1. Kekurangan pemahaman tentang simbol
2. Kekurangan pemahaman tentang nilai tempat
3. Kekurangan pemahaman tentang perhitungan
4. Penggunaan proses yang keliru
5. Tulisan yang tidak terbaca
KEKURANGAN PEMAHAMAN TENTANG SIMBOL
Anak-anak umumnya tidak terlalu banyak mengalami kesulitan jika kepada mereka disajikan soal-soal seperti 4 + 3 = ….., atau 8 – 5 = ….., namun akan mengalami kesulitan jika dihadapkan pada soal-soal seperti 4 = ….. = 7; 8 = …… + 5; ….. + 3 = 6; atau ….. – 4 = 7; atau 8 - ….. = 5. Kesulitan semacam ini umumnya karena anak tidak memahami simbol-simbol sama dengan (=), tambah (+), kurang (-), dan sebagainya. Agar anak dapat menyelesaikan soal-soal matematika, mereka harus lebih dahulu memahami simbol-simbol tersebut.
KEKURANGAN PEMAHAMAN NILAI TEMPAT
Anak yang melakukan kekeliruan semacam itu dapat juga karena lupa cara menghitung persoalan pengruangan atau penjumlahan tersusun ke bawah, sehingga kepada anak tidak cukup hanya diajak memahami nilai tempat tetapi juga diberikan latihan yang cukup.
PERHITUNGAN
Daftar perkalian mungkin dapat membantu memperbaiki kekeliruan anak jika anak telah memahami konsep perkalian.
PENGGUNAAN PROSES YANG KELIRU
Kekeliruan dalam penggunaan proses penghitungan dapat dilihat terjadi karena : Mempertukarkan simbol; Jumlah satuan dan puluhan ditulis tanpa memperhatikan nilai tempat; Semua digit ditambahkan bersama (alogaritma yang keliru dan tidak memperhatikan nilai tempat); Digit ditambahkan dari kiri ke kanan dan tidak memperhatikan nilai tempat; Dalam menjumlahkan, puluhan digabungkan dengan satuan; Bilangan yang besar dikurangi bilangan yang kecil tanpa memperhatikan nilai tempat; Bilangan yang telah dipinjam, nilainya tetap
TULISAN YANG TIDAK DAPAT DIBACA
Menurut Rini (2008), hal-hal yang perlu dilakukan pada anak diskalkulia adalah :
VISUALISASI KONSEP MATEMATIKA
Visualisasikan konsep matematika yang sulit dimengerti dengan menggunakan gambar atau cara lain untuk menjembatani langkah-langkah atau urutan proses matematika
MENYUARAKAN KONSEP MATEMATIKA
Suarakanlah konsep matematika yang sulit dimengerti dan mintalah kepada anak mendengarkan dengan cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep verbal.
TUANGKAN DI ATAS KERTAS
Tuangkan konsep matematika atau angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekedar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
TUANGKAN DALAM PRAKTEK
Tuangkan konsep-konsep matematika dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota kjeluarga yang ada, dan sebagainya.
DORONGAN MELATIH INGATAN
Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, misalnya dengan menyanyikan angka-angka.
PUJILAH SETIAP KEBERHASILAN
Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan, atau usaha yang dilakukan anak
PROSES ASOSIASI
Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak memahaminya
KERJA SAMA TERPADU
Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu kepada orang tua tentang tugas, buku-buku bacaan, serta latihan yang diperlukan di rumah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKESULITAN BELAJAR. PT Rineka Cipta. Jakarta , 2003.
http://www.dunia-matematika.blogspot.com/2008/mengajar-matematika-pada-anak.html
http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kids/gejala-diskalkulia.html
Ditulis oleh :
Constantinus J Joseph , Jl.Anjasmoro V no.24 Semarang
Email : constantinus99@yahoo.co.id
salam sejahtera..boleh saya Tuan tunjukkan buku ini di blog tuan.. saya dari Malaysia amat sulit untuk mendapatkan bacaan untuk masalah diskalkulia ini..harap tuan dapat menunjukkan bacaan tersebut sebagai rujukan saya.
BalasHapus