Selamat Datang di Lentera Study

Sekilas info yang mungkin bisa memberikan apa yang kamu inginkan lebih dari apa yang kamu butuhkan

Rabu, 21 Desember 2011

Bakat-Bakat yang Bisa Digali


10 BAKAT YANG SAYA MILIKI
YANG SAYA GUNAKAN DALAM PEKERJAAN




1.     Bakat Berfilsafat

Sejak SMP, saya suka dengan bacaan yang terkait dengan filsafat. Waktu itu saya menyisihkan uang jajan sehingga terkumpul Rp 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah) untuk membeli buku berjudul “Manusia dan Seni” karangan Y.B. Mangunwijaya (almarhum). Sebenarnya, di bagian kata pengantar buku ini tertulis, bahwa buku ini ditujukan bagi Mahasiswa di bidang seni budaya. Tetapi karena saya suka, saya tetap membelinya.

Saya begitu suka dengan buku ini, sehingga saya baca berkali-kali. Bagian yang paling sering saya baca adalah yang membahas tentang “Karya Seni yang Tidak Indah” dan “Estetika sebagai Bagian Filsafat yang Membahas tentang Keindahan”.

Selain itu, saya juga suka dengan filsafat karena pada saat SMP saya membaca buku berjudul “Mengarang itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Buku ini juga saya beli dengan uang yang saya sisihkan dari uanhg jajan, sampai terkumpul Rp 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah). Seingat saya, buku-buku semacam ini saat itu (tahun 1984-an) memang harganya Rp 2.500,- an.

Dalam buku “Mengarang itu Gampang” itu, saya sangat suka dengan bab yang membahas tentang “Mengapa Seniman itu Nyentrik”. Bab ini secara mendalam membahas definisi “nyentrik” dan “tidak nyentrik”, dan sebagainya. Sebuah pemikian yang filsafati.

Ketika kuliah (tahun 1990-an), saya membaca buku yang berjudul “Sejarah Berhitung” tulisan Prof. Andi Hakim Nasution. Bagian yang menarik bagi saya adalah mengenai “Perbedaan NOL dan KOSONG” yang pembahasannya sangat filsafati. Selain itu juga ada pembahasan tentang “Paradoks Zeno” yang juga sangat kental dengan filsafat logika.

Baru-baru ini (Oktober 2009) saya membeli buku berjudul “The Story of Philosophy : Takhayul Membakar Dunia, Filsafat Memadamkannya” seharga Rp 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) karena suka saja. Padahal, tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, kuliah filsafat pun sudah saya selesaikan semua.  
Karena kecintaan saya pada filsafat itu pula, saya tidak ada beban sama sekali ketika menempuh kuliah-kuliah filsafat di Fakultas Psikologi, dan semuanya mendapatkan nilai A.

Dari hal-hal tersebut di atas, saya menyimpulkan bahwa saya memiliki bakat dalam bidang filsafat (bagi kebanyakan orang, saya punya bakat untuk berpikir yang rumit-rumit).


2.     Bakat Menulis

Saya bercita-cita menjadi penulis sejak masih kelas 6 SD (tahun 1982-1983). Sebelumnya, sejak kelas 2 SD (tahun 1978-1979) setiap kali mendapat tugas mengarang (mata pelajaran Bahasa Indonesia), saya selalu membuat karangan sampai 6 halaman buku tulis (karangan yang sangat panjang untuk anak usia 8 tahun; rata-rata anak seusia itu mengarang 2-3 halaman buku tulis saja).

Ketika SMP, saya mulai menulis Cerita Pendek, dan saat itu saya bercita-cita membeli mesin ketik (manual). Karena belum punya mesin ketik sendiri, saat itu saya terpaksa mengirim naskah tulisan ke berbagai media massa dengan tulisan tangan, tetapi tidak ada satu pun yang dimuat. Barangkali karena naskah seharusnya diketik.

Saya kemudian pinjam mesin ketik dari tetangga kiri kanan rumah (keadaan ekonomi orang tua saya begitu pas-pasan sehingga saya membeli mesin ketik pun tidak bisa). Kemudian, semakin banyak naskah ketikan yang saya kirimkan ke media massa. Dan tetap tidak ada yang dimuat.

Ketika lulus SMA (tahun 1989) barulah tulisan saya mulai dimuat di media massa, dengan nama samaran Tien Este. Artinya, setelah 6 tahun berjuang menulis dan mengirim tulisan ke media massa, akhirnya naskah saya dimuat juga. Judulnya “Sabun Mandi dan Sabun Cuci”. Wah, senangnya bukan main.

Ketika kuliah (1990-1995) semakin banyak tulisan saya di muat di media massa. Salah satunya Cerita Pendek dengan judul “Si Mbak” yang bercerita tentang seorang pelacur di kawasan Kalibanteng Semarang.

Tahun 1999 – 2004 (16 tahun sejak saya mulai mengirimkan naskah tulisan ke media massa) saya menjadi penulis tetap di beberapa media massa terbitan Jakarta dan Semarang. Kalau dulunya saya banyak menulis Cerita Pendek, belakangan saya lebih banyak menulis tentang Ekspor – Impor dan Perbankan Internasional (sesuai bidang kerja saya saat itu).

Saya bahkan sempat menjadi free lance editor pada Penerbit Kanisius Yogyakarta karena saya ingin lebih memahami dunia tulis-menulis. Selain Penerbit Kanisius, saya juga bersyukur pernah diajak terlibat dalam Forum Diskusi Penulis Harian Kompas (meski tulisan saya belum pernah ada yang lolos dimuat di Harian Kompas!).

Sampai sekarang saya masih tetap menulis. Sejalan dengan pengalaman dan pendidikan yang saya jalani, sekarang saya lebih banyak menulis tentang People Development di beberapa media massa, antara lain Majalah Psikologi Plus.

Setelah 26 tahun sejak pertama kali mengirimkan naskah tulisan ke media massa, saya masih tetap setia menulis. Sekalipun honornya tidak seberapa, saya tetap menulis karena saya  suka dan yakin bahwa hal ini (membagi pengetahuan) adalah bermanfaat bagi orang lain juga.


3.     Bakat Berorasi (Retorika / Pidato)

Sewaktu kelas 1 SD, mulut saya sering diplester dengan lakban karena saya terkenal cerewet di kelas. Tampaknya, inilah petunjuk awal tentang bakat saya dalam hal berpidato.

Ketika SMP, saya mulai ikut berbagai lomba pidato, meski hanya tingkat kampung dan sekolah. Ironisnya, saya pada akhirnya tidak minat ikut lomba pidato lagi karena selalu menang. Istilah orang-orang : baru mendaftar saja, saya sudah menang. Akhirnya, saya tidak mau lagi ikut lomba pidato.

Ketika SMA, ada Mata Pelajaran Wicara / Ceramah (bagian dari Bahasa Indonesia). Saya selalu mendapat nilai A untuk Wicara. Di SMA, saya juga menjadi Juara Ke-2 Debat Antar Kelas di Loyola, di mana saya bersaing dengan kakak kelas 3 (saat itu saya masih kelas 2).

Di dunia kerja, kemampuan ini saya manfaatkan pada saat memberikan training. Selain itu, kemampuan ini ----- yang erat kaitannya dengan debat ----- juga menunjang pekerjaan saya ketika saya bekerja menjadi Legal & Remedial di perusahaan perbankan yang bertugas menyelesaikan kredit-kredit macet dan seringkali harus berdebat dengan para pengacara (yang hampir pasti juga jago debat).





4.     Bakat Bermain Teater (Seni Peran)

Selain ingin menjadi penulis, sejak SD saya juga ingin menjadi pemain teater. Dari dulu saya memang ingin menjadi seniman : penulis dan pemain teater.

Ketika SD,  saya rajin menonton acara di TVRI tentang seni peran yang dibawakan oleh Ibu Dosen Institut Kesenian Jakarta (saya tidak tahu namanya).

Ketika SMP, saya aktif bermain teater di sekolah. Ketika SMA, kegilaan saya pada teater semakin menjadi-jadi. Saya bahkan menjadi Ketua Kelas Teater di SMA. Pentas, menulis skenario, dan menjadi sutradara mulai saya jalani sebagai rutinitas bersama teman-teman teater saya. Saya pun rajin melakukan pentas, bahkan sampai di Yogyakarta. Menonton dan berdiskusi dengan para seniman teater di Semarang dan Yogyakarta menjadi bagian dari hidup saya. Di kalangan teman-teman SMA, saya bahkan lebih dikenal sebagai Tinus si Jurai Anak Teater.

Kecintaan pada teater juga didukung oleh keberadaan Mas Garin Nugroho, sutradara terkenal di Indonesia (dan di dunia internasional) yang juga kakak kelas sewaktu di SMA, dan lulusan Institut Kesenian Jakarta.

Karena alasan tidak ada dana maka setelah lulus SMA saya tidak jadi kuliah di Institut Kesenian Jakarta.

Meskipun saya tidak jadi kuliah di IKJ, namun kecintaan bermain teater masih selalu hidup. Setiap kali saya memberikan training di berbagai perusahaan dan universitas, saya selalu menggunakan prinsip-prinsip teater sehingga training menjadi hidup dan menarik. Selain itu, saya juga mengajari anak saya bermain teater (kebetulan anak saya juga senang bermain teater untuk tugas sekolah).


5.     Bakat Mengajar (Transfer of Knowledge)

Bakat mengajar saya rasakan mulai muncul sejak kelas 2 SD (1978-1979) ketika teman-teman sekelas bertanya tentang Matematika kepada saya, dan saya dengan senang hati menjelaskan kepada mereka.

Hobby mengajar ini berlanjut ketika SMP, SMA, kuliah, maupun bekerja. Senang rasanya bisa berbagai ilmu dengan orang lain dan melihat orang lain menjadi lebih pandai.

Hobby mengajar ini mulai memberikan hasil secara keuangan (orang mulai membayar saya) ketika di tahun 1989 saya mendirikan Usaha Bimbingan Belajar bersama teman mahasiswi yang sekarang menjadi istri saya.  Sebagai Koordinator Bimbingan Belajar sekaligus Pengajar Utama, saya mendapatkan gaji Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah) per bulan di tahun 1994. Suatu jumlah yang banyak untuk mahasiswa seperti saya.

Di tahun 1999 saya mulai memberikan training Ekspor-Impor di beberapa Lembaga Pelatihan Terapan.

Tahun 2004 saya menjadi Trainer pada Markplus Institute of Marketing milik Markplus & Co. (Bapak Hermawan Kartajaya) dan menjadi Authorized Facilitator Hyundai Mobil Jakarta yang ditugaskan di Semarang. Saya mulai terbiasa memberikan training di berbagai hotel berbintang seperti Hotel Horison dan Hotel Ciputra Semarang, serta Hotel Grand Wahid Salatiga.

Sebagai seorang yang hidup dalam dunia training yang saya cintai, dengan inisiatif dan biaya sendiri saya mengikuti pendidikan dan ujian sehingga saya memiliki lisensi sebagai Workplace Assessor dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia untuk bidang Manajemen Human Resources (berlaku 2009 sampai 2011) yang berlaku secara internasional.  

Saya mencintai hidup sebagai seorang trainer, dan bidang ini juga sudah memberikan hasil nyata secara keuangan bagi saya. Minat dan bakat yang menjadi sumber penghasilan.


6.     Bakat Supranatural

Memasuki usia 30-an, saya mulai memiliki minat yang besar dalam bidang supranatural. Sesuai pendapat Carl Gustav Jung, individu yang memasuki usia seperti ini memang normalnya mulai memikirkan hal-hal yang bersifat non materi. Hanya saja, dalam diri saya, kesukaan di bidang non materi ini begitu besar, dan memang mengarah ke supranatural.

Sebagai seseorang yang berlatar belakang pendidikan formal yang cukup baik, saya tetap mendasarkan minat supranatural pada kerangka ilmiah, misalnya dengan teori  ketidaksadaran kolektif-nya Carl Gustav Jung dan Multiple Intelligence-nya Howard Gardner.

Secara praktis saya menerapkan teori Jung dan Gardner ini dengan mempelajari radiesthesi menggunakan pendulum serta mempelajari tarot (pendekatan archetype). Saya juga secara khusus mempelajari Hypnotisme dan Teknologi Sugesti.

Hal-hal supranatural tersebut saya gunakan untuk menunjang kegiatan sehari-hari guna mendukung pekerjaan saya. Saya menyebutnya pendekatan holistik (menyeluruh) dalam People Development.



7.     Bakat Belajar (Menjadi Murid)

Meskipun tidak begitu umum bagi kebanyakan orang, tetapi memang saya memiliki minat yang terus-menerus untuk selalu belajar, baik itu berupa  forum diskusi, seminar, workshop, pelatihan, maupun kuliah. Hal ini didasarkan pada renungan saya bahwa tampaknya Tuhan menganugerahkan kepada saya karunia untuk belajar-mengajar, sehingga anugerah ini harus saya pupuk baik-baik supaya bermanfaat bagi sesama manusia dan juga saya sendiri.

Secara formal, sejak lulus SMA tahun 1989 sampai saat ini saya selalu bekerja sambil belajar / sekolah. Secara formal, saya pernah kuliah S-1 Akuakultur / Perikanan, S-1 Ekonomi Manajemen (tidak tamat), S-2 Manajemen (tamat). Saat ini saya sedang kuliah  S-1 Hukum (tahap skrpsi) dan S-1 Psikologi.

Karena didasarkan pada rasa cinta, maka secara keseluruhan hasil belajar saya mendapatkan nilai relatif  baik dibandingkan kebanyakan mahasiswa.
  

8.     Bakat Kepemimpinan / Organisator

Awalnya saya hanya menjadi Ketua Kelas atau Wakil Ketua Kelas sewaktu SD. Juga sewaktu SMP. Juga sewaktu SMA.

Ketika SMP, saya semakin aktif berorganisasi dan menjadi Ketua berbagai panitia / organisasi, demikian pula ketika SMA. Organisasi ini tidak hanya di dalam lingkungan sekolah / universitas, tetapi juga di masyarakat umum.

Begitu cintanya saya pada kegiatan berorganisasi, sehingga saya dengan senang hati berjalan kaki atau naik angkutan umum ke sana ke mari karena saya tidak punya sepeda motor (kondisi ekonomi keluarga saya tidak memungkinkan beli sepeda motor). Prinsip saya waktu itu : selama saya masih punya kaki, saya akan berjalan ke mana pun perlu untuk aktif berorganisasi.

Karena kecintaan saya dalam bidang leadership, di SMA saya menjadi Ketua Kelas Leadership selama satu tahun.

Ketika kuliah (1989-1995) saya mulai membatasi (bukan berarti tidak ikut sama sekali) kegiatan berorganisasi, karena harus membagi waktu dengan kegiatan mencari uang sebagai menjadi Guru Les Privat. Namun demikian, keaktifan saya di bidang organisasi selama ini membawa berkah bagi saya: mewakili Universitas Diponegoro waktu itu, saya mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Pusat Republik Indonesia di Jakarta untuk mengikuti Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Nasional selama satu bulan penuh di Jakarta. Dalam latihan itu, semua pengajarnya adalah Menteri (atau setingkat Menteri) Republik Indonesia.

Minat dan bakat di bidang organisasi / kepemimpinan ini saya rasakan sangat besar manfaatnya ketika saya memasuki dunia kerja : bagaimana melakukan analisis keadaan, bagaimana berhubungan dengan orang lain, bagaimana mengambil keputusan, bagaimana membuat proposal kegiatan / rencana kerja, bagaimana mengeksekusi keputusan, dan sebagainya. Selain itu, berbagai piagam dan sertifikat yang ada juga secara nyata membuktikan kesetiaan saya dalam bidang kepemimpinan dan organisasi, yang berkali-kali memperlancar karir pekerjaan saya.


9.     Bakat Fotografi dan Disain Grafis

Sejak usia 9 tahun saya sudah belajar memotret, dan sampai sekarang saya masih hobby memotret. Kata orang-orang, foto buatan saya bagus, artistik, punya sudut pandang yang unik.

Bakat fotografi ini kurang berkembang secara maksimal, artinya saya tidak menjadi fotografer profesional. Penyebabnya, ada tahun-tahun dalam kehidupan saya di mana secara ekonomi keluarga saya sangat berkekurangan (1980-1995, kurang lebih 15 tahun). Padahal, fotografi adalah hobby yang relatif mahal. Karena itu, ada waktu 15 tahunan yang terbuang di mana saya tidak bisa mengembangkan minat dan bakat fotografi saya, karena ketiadaan dana.

Mulai tahun 2002-an, saya mulai kembali memotret. Dan Fotografi merupakan salah satu senjata andalan saya dalam memberikan training (selain menggunakan handycam). Maksudnya, dengan menggunakan kamera foto dan handycam, saya membuat peserta training menjadi lebih tertarik dan lebih mudah menangkap materi yang ditrainingkan.

Tentang disain grafis, saya sejak SMP sudah menaruh minat yang besar pada pemilihan dan penggunaan berbagai macam huruf, tata letak gambar, teori warna, dan sebagainya. Sewaktu SMP, saya bahkan belajar teknik menyablon yang erat kaitannya dengan disain grafis.

Memanfaatkan minat dan bakat saya di bidang fotografi dan disain grafis, saat ini semua presentasi training saya selalu disain grafis banget. Materi presentasi / training saya selalu penuh dengan diagram-diagram, gambar-gambar kartun (saya belajar menggambar kartun sejak SMP), dan foto-foto buatan saya sendiri. Dengan demikian materi training menjadi sangat variatif.

Minat dan bakat di bidang disain grafis ini juga berguna dalam menjalin hubungan bisnis. Atas permintaan pemiliknya, saya sudah membuatkan lambang dan motto berbagai perusahaan di Semarang.

Meskipun saya tidak menjadi seorang fotografer dan disainer grafis profesional, hobby di bidang ini sudah secara nyata mendukung profesi saya sebagai seorang trainer yang dibayar (hobby yang menjadi penghidupan).


10.            Bakat Membuat Lagu

Seperti halnya fotografi, bakat membuat lagu ini kurang berkembang karena saya tidak memiliki dukungan dana untuk membeli alat musik dan belajar musik. Ketika kelas 4 SD, saya sangat ingin dibelikan gitar akustik. Tetapi menyadari keadaan ekonomi orang tua, saya bahkan tidak sampai hati dibelikan gitar.

Namun demikian, saya mampu dengan baik membaca not sebuah lagu (saya mampu menyanyikan lagu yang baru saya kenal hanya dengan membaca not yang tertulis di kertas, tidak perlu ada orang yang mengajari bagaimana lagu itu dinyanyikan). Saya juga mampu menemukan dan menuliskan not dari sebuah lagu hanya dengan mendengarnya sekali dua kali saja. Saya juga mampu menyanyikan lagu dengan alat musik sederhana yang saya bisa : harmonika, suling, dan melodihorn.

Untuk beberapa perusahaan, sekitar tahun 2005 saya menciptakan Lagu Mars sebagai lagu kebangsaan perusahaan tersebut. Dulu, ketika SMA, saya juga menciptakan beberapa  lagu pop dan beberapa theme song untuk pementasan teater.

Memang, ini adalah bakat terpendam yang kurang berkembang karena kondisi yang kurang mendukung.




----- 17 Oktober 2009 -----
 Oleh : Constantinus J Joseph
Jl. Anjasmoro V/24 Semarang
e-mail : constantinus99@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar