Selamat Datang di Lentera Study

Sekilas info yang mungkin bisa memberikan apa yang kamu inginkan lebih dari apa yang kamu butuhkan

Senin, 06 Februari 2012

KONSEP KEPERSONALIAAN I

I. DITINJAU DARI “TEORI ORGANISASI KLASIK” (TAYLOR & WEBER)

Ditinjau dari “Disain Organisasi”, maka Organisasi PT BPR XYZ menganut “Teori Organisasi Klasik”. Hal ini terlihat jelas karena Organisasi PT BPR Restu XYZ menggunakan “Departementasi”, di mana “Departementasi” merupakan ciri khas yang menguntungkan dari penerapan “Teori Organisasi Klasik”.

Sesuai dengan “Teori Organisasi Klasik” yang dikemukakan, dalam organisasi PT BPR XYZ terdapat :

1.       Pembagian Kerja. Pembagian kerja di PT BPR XYZ adalah sesuai dengan Depertemen dan Sub Departemen masing-masing, dan pembagian kerja ini akhirnya sampai pada masing-masing staf yang ada di Departemen dan Sub Departemen itu.

2.       Penetapan tugas, peraturan, dan tanggung jawab. Di PT BPR XYZ, penetapan tugas, peraturan, dan tanggung jawab dibuat dengan mengikuti dan mentaati peraturan perundang-undangan yang ada, yaitu Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang tentang Perbankan, Peraturan Bank Indonesia tentang Bank Perkreditan Rakyat, dan Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan. Sebagai sebuah Bank, organisasi PT BPR XYZ harus dibuat sedemikian rupa sehingga memenuhi peraturan perundang-undangan tersebut, karena apabila tidak memenuhi maka perusahaan ini akan dicabut izinnya dan ditutup oleh Bank Indonesia.

3.       Kesatuan Komando. Sesuai dengan Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas dan Peraturan Bank Indonesia tentang Bank Perkreditan Rakyat, dalam organisasi PT BPR XYZ harus ada kesatuan komando yang dalam hal ini ada di tangan Direksi.

4.       Kesatuan Arah. Sebagai sebuah Bank, PT BPR XYZ setiap tahunnya harus menyusun Rencana Kerja Tahunan dan setiap akhir semester harus menyusun Laporan Kerja yang disampaikan ke Bank Indonesia. Dengan demikian seluruh personil dalam organisasi PT BPR XYZ harus mengetahui dan melaksanakan arah yang telah ditentukan oleh Direksi.

5.       Rentang Pengendalian yang Sempit. “Rentang Pengendalian” adalah jumlah bawahan yang menjadi tanggung jawab manajer “untuk diawasi”. Di PT BPR XYZ, rentang pengendalian relatif sempit; hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jumlah manajer dan supervisor yang memimpin anak buah maksimal 12 orang, bahkan ada Manajer (yaitu Manajer Teknologi Informasi) yang tidak memimpin anak buah sama sekali dan Supervisor (yaitu Supervisor Funding) yang hanya memimpin satu orang anak buah.

6.       Perimbangan Kekuasaan dan Tanggung Jawab. Sebagai sebuah Bank, masalah kekuasaan dan tanggung jawab sudah diatur sedemikian rupa oleh Peraturan Bank Indonesia sehingga terwujud suatu keseimbangan, selain juga karena hal ini diatur oleh peraturan perundangan-undangan yang berlaku bagi Perseroan Terbatas yang bergerak di bidang Perbankan (ada 2 peraturan : Peraturan Bank Indonesia dan Undang-Undang Perseroan Terbatas untuk Bank).

Terkait dengan “Teori Organisasi Klasik” pula, organisasi PT BPR XYZ yang didasarkan pada “Departementasi” juga menekankan pentingya “pertimbangan efisiensi”. “Pertimbangan efisiensi” ini merupakan keuntungan dari penerapan “Teori Organisasi Klasik”, yang bagi perusahaan Perbankan harus dipenuhi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artinya, kalau PT BPR XYZ menyusun struktur organisasi yang tidak efisien yang berakibat pada “jeleknya kinerja keuangan” yang diukur dengan menggunakan parameter-parameter yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka hal ini akan beresiko pada ditutupnya PT BPR XYZ. Oleh karena itu, “pertimbangan efisiensi” merupakan hal yang harus ditaati dengan ketat oleh PT BPR XYZ.

II. DITINJAU DARI “TEORI ORGANISASI HUMANISTIK”

II.A. “TEORI X” MC GREGOR

Mc Gregor mengemukakan teori “organisasi birokrasi” yang didasarkan pada “pandangan negatif” tentang manusia ----- yang dikenal sebagai “Teori X” ----- di mana manusia dilihat sebagai makhluk yang pemalas, harus selalu diawasi supaya bekerja dengan giat, dan sebagainya.

Sebagai perusahaan perbankan, PT BPR XYZ juga menerapkan “organisasi birokrasi” sebagaimana dikemukakan oleh Mc Gregor, karena jasa layanan perbankan memang harus dijalankan secara “prudent” atau secara hati-hati. Istilah “prudential banking” merupakan prinsip yang harus dijunjung tinggi oleh perusahaan perbankan di manapun juga, dan karena itu istilah “audit” dan “pengawasan internal” merupakan hal yang lazim di perusahaan perbankan, yang tujuannya adalah supaya sumber daya manusia di perbankan selalu bekerja “sesuai standar yang ditetapkan”.

Menarik untuk dicermati bahwa sekalipun melakukan pengawasan secara ketat kepada sumber daya manusia di dalam organisasinya, apa yang dilakukan di PT BPR XYZ ----- sebagaimana perusahaan perbankan lainnya ----- tidak semata-mata didasarkan pada “Teori X” Mc Gregor saja. PT BPR XYZ juga menganut “Teori Y” yang mengatakan bahwa manusia secara alamiah suka bekerja, karena bekerja merupakan kegiatan yang bersifat rekreatif juga (selain manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya). Hal ini terlihat dari fakta bahwa di PT BPR XYZ, sumber daya manusia yang ada juga diberikan “kebebasan” untuk mencapai target kerja dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dan setelah itu “sisa waktu kerja yang masih ada” boleh digunakan untuk “mempelajari hal baru” dengan cara membaca buku-buku di perpustakaan PT BPR XYZ (perpustakaan ini berisi buku-buku-buku tentang perbankan dan modul-modul pembelajaran perbankan yang disusun sendiri oleh PT BPR XYZ dengan bantuan Tenaga Konsultan) ataupun  “membantu sambil belajar” di departemen lainnya. Ternyata sumber daya manusia di PT BPR XYZ antusias dengan “kesempatan / sistem” ini, di mana sumber daya manusia PT BPR XYZ (setiap Departemen ataupun Sub Departemen) berlomba-lomba mencapai target kerja “dalam waktu sesingkat-singkatnya” dan setelah itu masih bisa belajar / menambah ilmu di “sisa waktu kerja yang masih ada”. Mereka melakukan ini dengan antusias karena sudah memiliki paradigma bahwa pengetahuan yang semakin luas akan meningkatkan kualitas  mereka (sebagai sebuah tim maupun sebagai individu), dan dengan meningkatkanya kualitas mereka maka akan lebih terbuka peluang untuk mendapatkan karir yang lebih baik dan juga mendapatkan penghasilan serta fasilitas yang lebih baik pula.

II.B. “TEORI ORGANISASI KEPRIBADIAN” ARGYRIS

Menurut teori Argyris, organisasi yang efektif adalah organisasi yang strukturnya selaras dengan karakteristik manusianya, di mana manusia itu secara alami berkembang dari “bayi” menjadi “manusia dewasa”.

Saat ini, PT BPR XYZ baru berumur 7 tahun dengan aset Rp 60 milyar dan memiliki sumber daya manusia 60 orang dengan usia sumber daya manusia berkisar antara 25 tahun sampai 40 tahun; sebagian besar sumber daya manusia berusia antara 25 tahun hingga 35 tahun.

Mengacu pada teori Argyris, karakteristik organisasi PT BPR XYZ yang relatif masih muda (baru berusia 7 tahun) adalah selaras dengan karakteristik sebagian besar sumber daya manusianya yang juga relatif masih muda usia dan bersemangat tinggi dalam bekerja, dan karena itu pertumbuhan aset PT BPR XYZ adalah relatif cepat dibandingkan BPR-BPR lain di Semarang.

Apakah dengan demikian tidak terdapat sumber daya manusia yang “tidak puas” di PT BPR XYZ ? Sesuai dengan teori Argyris, ternyata ada sebagian kecil sumber daya manusia yang merasa tidak puas dan akhirnya “memilih” keluar (mengundurkan diri) dari perusahaan ini, dan bekerja di BPR lain yang “ritme kerjanya tidak se-dinamis PT BPR XYZ. Sumber daya manusia yang memilih mengundurkan diri ini memang “tidak bisa mengikuti” ritme kerja PT BPR XYZ yang “cepat dan bersemangat tinggi”, misalnya “melakukan survey ke rumah nasabah di luar kota di luar jam kerja (malam hari) secara sukarela dan atas inisiatif sendiri”.

II.C. “TEORI SISTEM”

Dalam teori ini dikenal adanya “Manajer Efektif” dan “Manajer Tidak Efektif”, di mana manajer yang bertindak sesuai dengan “Teori Organisasi Klasik” ternyata ----- menurut teori ini ----- kurang efektif dibandingkan dengan manajer yang “mengikuti pola-pola perilaku” yang didisain untuk “pengembangan kelompok kohesif” dengan target / tujuan yang tinggi.

Terkait dengan teori ini ----- sebagaimana telah dikemukakan di muka ----- para manajer (dan juga supervisor, bahkan direksi) PT BPR XYZ memang menerapkan “Teori Organisasi Klasik” karena “terikat” dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang ada di bidang perbankan dan juga karena harus menjunjung tinggi prinsip “prudential banking” (perbankan yang dijalankan dengan hati-hati). Namun demikian, sebagaimana PT BPR XYZ tidak hanya menjalankan “Teori X” Mc Gregor ----- tetapi juga menjalankan “Teori Y” -----, maka sekalipun di PT BPR XYZ dijalankan “Teori Organisasi Klasik” yang berbasiskan “Departementasi”, bukan berarti PT BPR XYZ tidak menjalankan prinsip-prinsip “manajemen yang mengikuti pola-pola perilaku yang didisain untuk mengembangkan kelompok kohesif dengan target / tujuan yang tinggi”. Hal ini terlihat dari fakta bahwa di PT BPR XYZ dijalankan suatu sistem di mana “setiap Departemen atau Sub Departemen harus berlomba mencapai target secepat mungkin dan setelah itu sisa waktu kerja yang masih ada bisa digunakan untuk pengembangan pengetahuan masih-masing Departemen atau Sub Departemen”. Hal ini membuat setiap Departemen ataupun Sub Departemen berusaha bekerja sebagai sebuah tim kerja yang se-solid mungkin untuk menjadi “tim kerja terbaik” dalam arti dapat mencapai target yang ditetapkan (dalam waktu yang lebih singkat dari yang disediakan oleh Direksi) dan masih memiliki sisa waktu kerja untuk mengembangkan pengetahuan sebagai sebuah tim kerja yang solid. Dalam kondisi seperti ini, setiap manajer dan supervisor akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat tim yang dipimpinnya mampu bekerja seefektif mungkin, dan bukan semata-mata mengikuti “garis komando” (artinya : asal mencapai target pada waktu yang ditetapkan). Dalam konsidi seperti ini terdapat suasana “persaingan yang sehat”, dan hanya manajer atau supervisor yang paling efektiflah yang menjadi manajer  atau supervisor terbaik di PT BPR XYZ.


ooo 0 ooo
         Oleh : Constantinus J Joseph
           Jl. Anjasmoro V/24 Semarang
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar